PANDUAN PRAKTIS UNTUK
PENGENDALIAN INFEKSI DI FASILITAS KESEHATAN
1.
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Munculnya infeksi yang mengancam hidup manusia
seperti SARS dan penyakit menular
muncul kembali seperti wabah dan tuberculosis yang membutuhkan perhartian kusus yaitu
untuk program pengendalian infeksi yang efisien. Melalkukan program infeksi secara bersama-sama,
ketika digunakan dengan tepat dapat membatasi
penyebaran infeksi.Pelanggaran dalam praktek pengendalian infeksi memudahkan penularan infeksi dari
pasien ke tenaga kesehatan, antar pasien dan pengunjung. Oleh karena itu
penting bagi semua tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien, teman dan kontak
fisik yang paling
dekat untuk mematuhi panduan pengendalian infeksi dengan seksama.
B. Tindakan
pencegahan pengendalian infeksi
“ tindakan pencegahan
standar” mengharuskan bahwa tenaga kesehatan menganggap bahwa darah dan cairan
tubuh dari semua pasien adalah potensi menimbulkan infeksi, tanpa menghiraukan
diagnosis, atau terduga memiliki infeksi. Tambahan tindakan pencegahan adalah
membutuhkan penularan oleh udara, air liur, dan contact. Semua itu disebut :
tambahan tindakan pencegahan.
2.
PROGRAM
PENGENDALIAN INFEKSI
Program oengendalian infeksi dibuat untuk mengurangi
risiko kesehatan terkait dengan infeksi nosokomial sehingga program tersebut
harus :
·
Menetapkan
tujuan nasional yang relevan sesuai dengan kesehatan nasional
·
Mengembangkan
tujuan nasional dan terus-menerus memperbarui pedoman untuk kesehatan dan
direkomendasikan untuk pengawasan, pencegahan dan praktek
·
Menyelaraskan
program pelatihan awal dan berkelanjutan untuk perawatan kesehatan profesional
·
Memfasilitasi
akses terhadap bahan dan produk penting untuk kebersihan dan keamanan
·
Mendorong
instansi layanan kesehatan untuk memantau kesehatan terkait (nosokomial)
infeksi dan untuk memberikan umpan balik kepada para profesional yang
bersangkutan.
Otoritas kesehatan nasional atau regional harus
menunjuk agen untuk mengawasi program (departemen kementrian, lembaga atau
badan lain), danmerencanakan kegiatan dengan bantuan masing-masing komite:
·
Risiko yang
terkait dengan teknologi baru dan memonitor resiko tertular infeksi dari
pernagkat dan produk baru, sebelum alat tersebut digunakan
·
Meriview dan
memberi masukan dalam menyelidikan wabah dan epidemi
·
Berkomunikasi
dan bekerjasama dengan komite lain dari fasilitas keperawatan dengan
kepentingan umum seperti farmasi , komite penggunaan antimikroba, biosafety
atau komite kesehatan dan keselamatan, komite manajemen limbah dan komite
transfusi darah.
Setiap fasilitas kesehatan harus :
·
Mengembangkan
program pengendalian infeksi untuk menjaga kesejahteraan staff dan pasien
·
Mengembangkan
rencana kerja tahnan untuk menilai dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang
baik, isolasi yang sesuai, sterilisasi, dan praktek-praktek lain, pelatihan
staf, dan survei epidemiologi.
·
Menyediakan
sumber daya yang cukup untuk mendukung program pengendalian infeksi.
Pencegahan risiko untuk pasien dan staf adalah perhatian
dari semua orang di fasiitas kesehatan dan harus didukung oleh administrasi
senior.
a.
Apa yang
dimaksud program pengendalian infeksi?
Komponen
yang penting dari pengendalian infeksi adalah:
-
Langkah-langkah
dasar untuk pengendalian infeksi yaitu standar tambahan tindakan pencegahan
-
Pendidikan dan
pelatihan petugas kesehatan
-
Perlindungan
pekerja perawatan kesehatan misalnya dengan imunisasi
-
Identifikasi
meminimalkan bahaya dan risiko
-
Penting untuk
praktek rutin pengendalian infeksi seperti teknik aspetik, penggunaan barang
sekali pakai, proses instrument dan peralatan, penggunaan antibiotik, manajemen
paparan cairan darah/ tubuh.
b.
Organisasi dari
program pengendalian infeksi
Seperti
dengan semua fungsi dari fasilitas p erawatan kesehatan, tanggung jawab untuk
pencegahan dan pengendalian ifeksi berada pada administator kesehatan.
Administrator
kesehatan harus:
-
Membentuk komite
pengendalian infeksi
-
Menyediakan
sumber daya yang memadai
c.
Comite pengendalian
infeksi
Sebuah komite
pengendalian infeksi menyediakan forum untuk input multidisiplin dan kerja
sama, dan berbagi informasi . Komite ini harus mencakup representasi yang luas
dari departemen terkait : misalnya manajemen , dokter, pekerja lain kesehatan,
mikrobiologi klinik, farmasi, pelayanan sterilisasi, pemeliharaan , rumah
tangga dan jasa pelatihan . Panitia harus memiliki hubungan pelaporan langsung
baik administrasi atau staf medis untuk mempromosikan visibilitas dan
efektivitas program. Dalam keadaan darurat ( seperti wabah ) , komite ini harus
mampu bertemu segera . Ini memiliki tugas sebagai berikut :
·
Untuk meninjau dan
menyetujui program tahunan kegiatan surveilans dan pencegahan ;
·
Untuk meninjau data surveilans epidemiologi
dan mengidentifikasi area untuk intervensi,
·
Untuk menilai dan mempromosikan
praktek kerja di semua tingkat kesehatan fasilitas ;
·
Untuk memastikan
pelatihan staf yang tepat dalam pengendalian infeksi dan keselamatan manajemen
, penyediaan bahan keselamatan seperti pelindung pribadi peralatan dan produk ;
dan
·
Pelatihan tenaga
kesehatan .
Program
pengendalian infeksi akan efektif selama itu komprehensif dan mencakup kegiatan
surveilans dan pencegahan , serta sebagai pelatihan staf . Juga harus ada
dukungan yang efektif di tingkat nasional dan regional tingkat .Komite pengendalian
infeksi bertanggung jawab untuk pengembangan kebijakan untuk pencegahan dan
pengendalian infeksi dan untuk mengawasi pelaksanaan program pengendalian
infeksi . Seharusnya :
·
Terdiri
wakil-wakil dari berbgai unit didalam rumah sakit yang memiliki peran untuk
bermain (medis, keperawatan, teknik, pekerjaan rumah tangga administrasi,
farmasi, sterilisai dan mikrobiologi)
·
Memilih salah
satu anggota komite untuk menjadi ketua (yang seharusnya memiliki akses
langsung ke kepala administrasi RS)
·
Menunjukpengontrol
praktek infeksi (petugas kesehatan yang terlatih dalam prinsip-prinsip dan
praktek pengendalian infeksi, misalnya dokter, mikrobiologi atau perawat )
sebagai sekertaris.
·
Pertemuan rutin
·
Mengembangkan
petunjuk pengendalian infeksi
·
Memantau dan
mengevaluasi
d.
Tim pengendalian
infeksi
Tim
pengendalian bertanggung jawab untuk kegiatan sehari-hari. pelayanan kesehatan
harus memiliki bagan pengendalian infeksi, epidemiologi dan penyakit menular,
temasuk dokter dan praktisi pengendalian infeksi.
Tim
pengendalian infeksi harus:
·
Terdiri dari
setidaknya satu praktisi pengendalian infeksi yang harus dilatih untuk tujuan
tersebut
·
Melakukan
pengawasan
·
Mengembangkan
dan memperluas kebijakan pengendalian infeksi
·
Memantau dan
mengelola insiden kritis
·
Mengkoordinasikan
dan melakukan kegiatan pelatihan
3.
PRAKTEK
PENGENDALIAN INFEKSI
Praktek pengendalian infeksi dapat dikelompokkan dalam
dua kategori yaitu tindakan pencegahan standar dan tindakan pencegahan tambahan
(berbasis transmisi). Tindakan pencegahan standar yang harus diterapkan untuk
semua pasien setiap saat, tanpa diagnosis atau status menular, dan tindakan
pencegahan tamabahan yang spesifik untuk sara penularan (udara, droplet, dan
kontak).
a.
Kewaspaan
standar
Tindakan
pencegahan melibatkan praktek kerja yang penting untuk memberikan perlindungan
kepada pasien, petugas kesehatan dan pengunjung. Ini meliputi ;
·
Mencuci tangan
·
Menggunakan APD
·
Penanganan yang
tepat dari peralatan perawatan pasien dan linen kotor
·
Pencegahan dari
benda tajam / jarum
·
Membersihkan
lingkungan
·
Penangan limbah
b.
Mencuci tangan
dan antiseptik
Mencuci
tangan dapat mengurangi mikroorganisme yang ada ditangan sehingga dapat
mencegah penyebaran infeksi dari satu orang ke orag lain.
Cuci
tangan dan dekontaminasi :
·
Setelah
menyentuh darah, cairan tubuh, sekresi, exresi, dan benda yang terkontaminasi
·
Akan kontak
dengan pasien lain
·
Kontak dari
bagian tubuh pasien yang berbeda
·
Setelah melepas
sarung tangan
·
Gunakan sabun, alkohol,
air antiseptik.
c.
Menggunakan APD
Alat
perlindungan harus digunakan oleh :
·
Petugas
kesehatan yang memberikan perawatan langsung kepada pasien dan yang bekerja
dalam situasi yang berkontak dengan
darah, cairan tubuh, eksresi dan skeresi tubuh.
·
Staf medis,
tukang bersih-bersih dan staff laundry
Prinsip penggunaan APD
Alat perlindungan diri mengurangi tetapi tidak
sepenuhnya menghilangkan risiko tertular infeksi. Menggunakan secara efektif,
benar, dan setiap saat dimana kontak dengan cairan tubuh pasien dan darah.
APD meliputi : sarung tangan, clemek, masker, kacamata,
spatu boots,pelindung kepala, baju pelindung.
4.
PRAKTEK
MANAJEMEN LINGKUNGAN
Membersihkan
lingkungan bermain adalah tindakan yang penting dalam pencegahan infeksi
nosokomial. Banyak faktor , termasuk desaign ruangan perawatan pasien, ruangan
infeksi, kualitas udara, persediaan air dan laundry, dapat meningkatkan infeksi
nosokomial.
Bangunan
Desaign
fasilitas dan perencanaan harus memastikan :
a. Pemasokan
air harus memadai dan aman
b. Tindakan
membersihkan harus tepat
c. Ruangan
untuk tempat tidur harus memadai
d. Interbed
space memadai
e. Fasilitas
cuci tangan yang sesuai
f. Ventilasi
untuk ruang isolasi yang sesuai dan ruanganyang memiliki resiko tinggi seperti
ruang operasi, unit transplatasi, perawatan intensive.
g. Fasilitas
ruang isolasi untuk udara harus
berkualitas, air liur, contact isolation
dan menjaga lingkungan
h. Peraturan
arus lalu lintas untuk meminimalkan terpapar dari pasien beresiko tinggi dan
fasilitas kendaraan pasien.
i.
Ukuran untuk mencegah
penyebaran dari psien to fungal spore selama renovasi
j.
Tindakan pencegahan
untuk mengkontrol binatang pengerat, hama dan hewan vektor lainnya
k. Pastikan
fasilitas pengelolaan sampah dan
mengerjakan.
Udara
ventilasi
Sistem
pertukaran udara harus didesain dan dikelola untuk meminimalkan terkontaminasi
mikroba. Penyaringan udara harus dibersihkan secara berkala dan kipas
angin dapat menyebarkan penyakit diudara
sehingga dihindarkan dari ruangan yang memiliki resiko tinggi.
Ruangan
yang berisiko tinggi seperti ruang operasi, daerah kritis dan unit transplatasi
memerlukan sistem pertukaran udara khusus. Penyaring udara (unit pengontrol
udara) di desain untuk menyediakan udara yang bersih sehingga memeiliki High
efficiency perticulate air (HEPA) penyaringan udara di daerah yang memiliki
resiko tinggi infeksi. Sistem arus udara Searah berlapis dapat disediakan di lingkungan yang tepat
didalam kontruksi rumah sakit. Udara yang sangat bersih sangat berharga di
bebrapa jenis operasi/ operasi saraf/ implant sugery theatres dan transplatasi
unit.
Di
ruang operasi, ukuran yang harus ada dalam kualitas udara adalah :
a. Frekuensi
pengelolaan/ validitas dari efisiensi
penyaringan udara (disesuaikan dengan syrat pembuatan)
b. Melewati
tekanan tinggi di penyarigan tempat tidur dan di ruang operasi.
c. Pertukaran
udara setiap jam (minimal 15 kali dalam satu jam)
d. Suhu
ruangan dipertahankan dalam suhu 20C dan 22C dan kelembaban udara antara 30%
dan 60% untuk mencegah Peningkatan bakteri
e. Ruang
umum harus memiliki ventilasi yang baik jika tidak memiliki AC
Pengendalian
udara kusus untuk pencegahan penularan
dari udara.
Lubang
tekanan udara negatif ke udara adalah dianjurkan untuk lingkungan yang
terkontaminasi dan juga diperlukan untuk pasien diruang isolasi dengan pasien
infeksi yang menyebarmelalui udara. Sistem pengendalian udara menyediakan
pertukaran udara 6-12 kali setiap satu jam dengan udara yang dapat diganti dari
luar menggunakan mesin penyaring yang dianjurkan. Sistem harus di lakukan
pengontrolan oleh tekhnik mesin untuk memastikan bahwa sudah sesuai dengan
tekanan negatif ruangan.
Ruangan
individu yang menggunakan AC dengan
adanya lubang pembuangan uap adalah pilihan tepat untuk fasilitas kesehatan
tanpa (ruangan dengan tekanan negative)
Jika
AC di ruangan individu tidak ada seperti di banyak sumber ruangan biasa, kipas
dapat digunakan diruangan langsing dengan arus udara langsung keluar melewati
jendela.
Menjaga
lingkungan
Menjaga
lingkungan akan diperlukan untuk beberapa neutropenic pasien.
Ada
bebrapa cara untuk menjaga pasien dengan imnuitas rendah yaitu:
1. Tenaga
kesehatan dan pengunjung harus menghindari contak dengan pasien jika mereka
memiliki infeksi (contoh: herpes simpleks dan infeksi saluran pernapasan)
2. Dengan
tepat dimana pengunjung dan staff menggunakan APD untuk melindugi pasien dari
mikroorganisme.
3. Jangan
meletakan tumbuhan atau bunga didalam ruangan
4. Pastikan
lingkungan rapi
5. Lingkungan
dibersihkan sehari 2kali dan selalu consisten untuk mengelap debu dan jangan
menggunakan aerosol
6. Gunakan
aseptik yang keras untuk semua prosedur klinik.
Air
Fasilitas
kesehatan harus menyediakan air yang bersih dan aman. Jika memiliki tampat
pennyimpanan air , harus dibersihkan secara rutin dan kualitas air harus
dikontrol secara berkala untuk memastikan apakah terkontaminasi bakteri.
Air minum yang
aman
Dimana
air besih tidak dapat digunakan, rebus air selama 5 menit untuk merubahnya
menjadi aman. Pemasok air di lingkungan
yang bersih, jangan memasukkan tangan didalam tempat penyimpanan air.
Membersihkan
lingkungan rumah sakit
Membersihakan
lingkungan rumah sakit adalah penting
untuk memastikan bersih dan bebas debu. Biasanya banyak mikroorganisme
yang datang sehingga “terlihat kotor”, dan membersihkan secara rutin membantu
menghilangkan kotoran. Ruang administrasi dan ruang kantor yang tidak ada
pasien butuh dibersihkan menggunakan cara biasa, dan untuk ruangan pasien
menggunakan pel basah.air panas dengan suhu 80C efektif untuk membersihkan
bakteri.
Manajemen sampah
Sampah
rumah sakit berpotensi menyimpan mikroorganisme patogen dan membutuhkan
penanganan yang tepat, aman dan dapat digunakan kembail. Yang utama risiko
teman sejawat terkena infeksi dengan
benda tajam yang terkontaminasi oleh darah. Itu dapat menyebar dai orang ke
orang mungkin juga dari organisai dan manajemen dari kumpulan sampah,
penanganan, penyimpanan dan pembuangan. Manajemen pengelolaan sampah harus
diadakan dengan koordinasi oleh team pengendalian infeksi.
Langkah
manajemen sampah rumah sakit yaitu:
1. generation
2. Memisahkan
3. Mengumpulkan
4. Memindahkan
5. Penyimpanan
6. Pengolahan
7. Terakhir
pembuangan
Prinsip manajemen sampah
Metode pembuangan
Sampah tajam :
· Autoclave
, penghancuran dan membuang atau microwave , rusak
dan membuang atau mengobati, dengan plasma pirolisis
wadah anti-robek menyimpan dibuang benda tajam ;
· Penguburan
di
daerah aman . Penguburan harus dalam 2-3
meter dan setidaknya 1,5 meter di atas muka air tanah .
Limbah
membutuhkan insinerasi :
·
Bagian anatomi dan
bangkai hewan ;
·
Obat sitotoksik (
residu atau usang ) ;
·
Bahan kimia
laboratorium beracun selain merkuri .
Sampah
yang dapat dibakar :
·
Pasien terkontaminasi
non - plastik dan plastik non - diklorinasi .
Sampah
yang tidak boleh dibakar :
·
Diklorinasi plastik ;
·
Limbah beracun yang
mudah menguap seperti merkuri ;
·
Plastik , non - plastik
yang terkontaminasi dengan darah , cairan tubuh , sekresi dan kotoran dan
limbah laboratorium menular . ( Limbah tersebut harus dibersihkan dengan sterilisasi uap
dalam kantong autoclave
atau microwave pengobatan . Penghancuran
dapat mengikuti kedua metode tersebut . Jika metode tidak tersedia , pengobatan
kimia dengan 1 % hipoklorit atau serupa disinfektan dianjurkan . Namun,
penggunaan berlebihan bahan kimia desinfektan harus dihindari karena mungkin
kesehatan dan lingkungan bahaya.
Limbah
radioaktif ( harus ditangani sesuai dengan hukum nasional)
Laundry
Prinsip-prinsip dasar
pengelolaan linen adalah sebagai berikut:
·
Tempatkan linen yang
telah digunakan gunakan dalam kantong yang tepat
·
Linen yang kotor dengan cairan tubuh atau cairan lain
dalam tas kedap air yang cocok dan tas yang tertutup aman pada saat transportasi untuk menghindari
tumpahan atau tetesan darah, cairan tubuh,
sekresi atau ekskresi.
·
Jangan bilas atau
memilah linen di daerah perawatan pasien (dipilah pada daerah yang ditentukan).
·
Menangani semua linen
dengan agitasi minimum untuk menghindari aerosolisation dari mikro-organisme
patogen. Pisahkan bersih dari linen kotor dan bawa secara terpisah.
·
Linen di autoclave
terlebih dahulu sebelum dipasok ke kamar operasi.
·
Selimut wol Cuci dalam
air hangat dandikeringkan di bawah sinar matahari, dalam pengering pada suhu
dingin atau kering-bersih.
seperai
·
Kasur dan bantal dengan
penutup plastik harus debersihkan dengan deterjen.
·
Kasur tanpa sampul
plastik jika mereka telah terkontaminasi dengan cairan tubuh harus diuapkan dan
dibersihkan. Jika hal ini tidak mungkin, kontaminasi harus dibersihkan dengan
mencuci manual, memastikan personil yang memadai dan perlindungan lingkungan.
·
Cuci bantal baik dengan
menggunakan prosedur pencucian standar dijelaskan di atas, atau kering bersih
jika terkontaminasi dengan cairan tubuh
Pemrosesan instrumen dan peralatan
Risiko
mentransfer infeksi dari instrumen dan peralatan tergantung pada faktor-faktor
berikut :
1.
Adanya mikro -
organisme , jumlah dan virulensi ini organisme ;
2. jenis prosedur yang akan dilakukan ( invasif
atau non - invasif ) , dan
3.
Bagian tubuh di mana
instrumen atau peralatan akan digunakan ( menembus mukosa atau jaringan kulit
atau digunakan pada kulit utuh ) .
Prinsip pemrosesan
Aplikasi
|
Klasifikasi spaulding
|
Tingkat risiko
|
Level sebelum pemrosesan
|
contoh
|
Tempat penyimpanan dari pemrosesan alat
|
masuk atau penetrasi
jaringan menjadi steril
, rongga atau
aliran darah Misalnya ke sistem vaskular ke steril Rongga ke jaringan steril
|
Kritis
|
tinggi
|
steril
sterilisasi
dengan
steam bawah
tekanan atau sterilant kimia
sistem otomatis
dengan temperatur rendah , cairan lain
sterilant
kimia atau
etilen oksida
sterilisas
|
bedah,
masuk ke
jaringan
steril,
Artroskopi,
biopsi,
intravaskular
kanulasi
|
Kesterilan harus dipertahankan. - Item dikemas harus
dibiarkan kering sebelum pemindahan dari sterilisasi - integritas dari
membungkus harus dipertahankan - membungkus harus berperan efektif sebagai
bio-penghalang selama penyimpanan - Toko jauh dari potensi lingkungan
kontaminan - yang tidak dibungkus steril item harus digunakan segera
|
kontak dengan
mukosa utuh yang tidak steril atau kulit yang tidak utuh
|
setengah kritis
|
medium
|
disinfeksi
barang tahan panas
- jika mungkin Mensterilkan dengan uap
- Jika tidak mampu uap mensterilkan menggunakan panas
Penyucian Item peka panas
- Sistem kimia suhu rendah Otomatis sterilant
- kimia desinfektan
|
Terapi
pernafasan, gastrocopy
|
Menjaga peralatan yang terkontaminasi
|
Kulit utuh,
tidak ada
kontak
dengan pasien
|
Tidak kritis
|
rendah
|
item harus
dibersihkan
- Setelah digunakan bersihkan dengan deterjen dan air.
- disinfeksi menggunakan alkohol 70%
|
Tempat tidur,
kulit, etc
|
Simpan ditempat yang kering dan bersih
|
Pelatihan
staf : staf yang bekerja pada unit sterilisai
alat maka harus sudah mengikuti latihan seterilisasi alat. Agar dapat melakukan
tanggung jawabnya dengan baik. Tingkat pelatihan harus disesuaikan dengan
tanggung jawab dari staf.
Tingkat
yang tepat dari Reprocessing : Seperti
dijelaskan di atas penting bahwa tingkat pengolahan instrument yang benar
dipilih sesuai dengan penggunaan. Sterilisasi uap direkomendasikan sebagai
metode yang paling efektif untuk mencapai steril. Namun, ini mungkin tidak
selalu memungkinkan karena beberapa instrumen mungkin tidak mampu menahan suhu
atau kelembaban yang dibutuhkan untuk sterilisasi menggunakan uap. Metode lain
dapat digunakan untuk mencapai sterilitas
seperti etilen oksida atau otomatis suhu rendah kimia sterilant sistem,
disediakan produsen instrumen / peralatan bahwa ini adalah cara yang efektif
untuk mensterilkan peralatan.
Pelayanan
instrumen dan peralatan: Sebelum
mengirimkan peralatan medis untuk layanan mereka harus diproses ulang dengan tepat.
Namun jika mereka tidak dapat diproses ulang sebelum diperbaiki, mereka harus
ditempatkan dalam kantong plastik tahan cairan atau wadah dan diberi label
dengan tepat sebelum dikirim untuk perbaikan.
Item yang
dipilih yang memerlukan pengolahan khusus
· Endoskopi,
· Pernapasan dan alat anestesi,
· Transduser ultrasonik Diagnostik.
Penyimpanan: Penyimpanan instrumen dan peralatan merupakan
komponen penting dalam mempertahankan sterilisasi atau disinfeksi. Peralatan harus
disimpan di tempat yang bersih, lingkungan yang kering dan dilindungi dari
kerusakan.
Peralatan
perawatan pasien : Peralatan yang
digunakan untuk pasien, dan hanya menyentuh kulit mereka, seperti pispot,
urinal, kursi commode, tekanan darah manset dll harus dibersihkan atau
dibersihkan dan didesinfeksi - biasanya dalam air panas (setidaknya 70°C).
Pembersihan, disinfeksi dan sterilisasi
a. pembersihan
Sebelum dilakukan desinfeksi atau sterilitas semua
instrumen dan peralatan harus dibersihkan. Jika tidak dibersihkan dengan benar,
bahan organik dapat mencegah desinfektan dan menonaktifkan aktivitas kimia dari
disinfectant. Jika instrumen / peralatan tidak dapat dibersihkan maka tidak
dapat disterilkan atau didesinfeksi.untuk membersihkan menggunakan deterjen dan
air. Ada empat metode utama yang digunakan untuk membersihkan instrumen dan
peralatan yaitu : mencuci secara manual, membersihkan dengan enzim, pembersih
ultrasonikdan mesin otomatis, dan disinfeksi.
Produk tertentu dan proses akan memberikan berbagai
tingkat desinfeksi. Tingkat ini diklasifikasikan sebagai:
a.
Disinfeksi
tingkat tinggi: Menghancurkan semua mikro-organisme kecuali beberapa spora
bakteri (terutama jika ada kontaminasi berat).
b.
Menengah
disinfeksi: menginaktivasi Mycobacterium tuberculosis bakteri vegetatif,
sebagian besar virus dan kebanyakan jamur, tetapi tidak selalu membunuh spora
bakteri.
c.
tingkat rendah disinfeksi: Dapat membunuh
bakteri, beberapa virus dan beberapajamur, tetapi tidak dapat diandalkan untuk
membunuh bakteri lebih tahan seperti M. tuberkulosis atau spora bakteri.
Dua
metode untuk mencapai desinfeksi yang termal dan kimia desinfeksi.
1.
Desinfeksi
Thermal (pasteurisasi)
menggunakan panas dan air pada suhu yang dapat menghancurkan
patogen, agen vegetatif, ini adalah metode desinfeksi yang efisien. Tingkat desinfeksi
tergantung pada suhu air dan durasi instrumen terkena suhu tersebut.
Suhu
permukaan (°C)
|
Waktu
minimum yang
diperlukan
desinfeksi (menit)
|
90
80
75
70
|
1
10
30
100
|
2.
Disinfeksi kimia
Kinerja
disinfektan kimia tergantung pada sejumlah faktor termasuk: suhu, waktu kontak,
konsentrasi, pH, kehadiran organik atau bahan anorganik. Disinfektan instrumen
kelas diklasifikasikan tinggi, menengah atau rendah tingkat. Ketika digunakan
sesuai dengan produsen 'pedoman, desinfektan akan jatuh ke salah satu tingkat
ini.
Sterilisasi
Sterilisasi
adalah menghilangkan semua mikroorganisme dan bisa menggunakan bahan kimia atau
secara fisik.sterilisasi adalah penting dalam kesehatan untuk menetralkan
bagian tubuh. Untuk membersihkan debu yang terlihat kemudian dapat digunakan
lagi harus disterilkan terlebih dahulu.semua peralatan harus dibungkus sebelum
disterilisasi. Instrumen dan peralatan dapat
steril jika salah satu dari proses berikut digunakan: Steam bawah tekanan
(panas lembab), panas kering, Ethylene oxide, Automated lingkungan disegel suhu
rendah asam perasetat, hidrogen peroksida plasma dan sistem sterilant kimia
lainnya atau
sterilants, atau Iradiasi.
5.
MELINDUNGI
TENAGA KESEHATAN
Petugas
kesehatan beresiko tertular infeksi karena terpapar. Karyawan rumah sakit juga
dapat menularkan infeksi ke pasien dan karyawan lainnya. Dengan demikian ,
program kesehatan karyawan harus ada untuk mencegah dan mengelola infeksi pada
staf rumah sakit . Kesehatan karyawan harus ditinjau, termasuk Riwayat imunisasi
dan riwayat penyakit sebelumnya untuk penyakit menular (misalnya tuberkulosis )
dan status kekebalan . Beberapa infeksi sebelumnya seperti virus varicella
-zoster dapat dinilai dengan tes serologis . Imunisasi dianjurkan untuk staf
meliputi : hepatitis A dan B , influenza , campak, gondok , rubella , tetanus ,
dan difteri. Imunisasi terhadap varicella , rabies dapat dipertimbangkan pada
kasus-kasus tertentu . The Mantoux Tes akan melihat tuberkulosis sebelumnya. Kepatuhan
memastikan untuk sejumlah penyakit menular misalnya : human immunodeficiency virus
( HIV ) , virus hepatitis , sindrom pernafasan akut parah ( SARS ) , varicella
, rubella dan TBC . Petugas kesehatan dengan infeksi harus melaporkan penyakit
mereka / insiden kepada staf klinik untuk evaluasi lebih lanjut dan manajemen .
Paparan human immunodeficiency virus (
HIV )
Rute
penularan HIV adalah orang ke orang melalui kontak seksual , pemakaian jarum
suntik terkontaminasi dengan HIV , infus yang terkontaminasi dengan HIV ,
transplantasi organ atau jaringan yang terinfeksi HIV. Risiko seorang petugas
kesehatan tertular HIV cedera jarum suntik atau lainnya " Benda tajam
" kurang dari 0,5 % . Pelatihan untuk perawatan kesehatan pekerja dalam
praktek benda tajam yang aman harus berlanjut. Informasi tentang
langkah-langkah pencegahan harus diberikan kepada semua staf dengan paparan
potensi untuk darah dan produk darah. Kebijakan yang dalam menjaga dengan
pedoman lokal dan nasional harus mencakup skrining pasien , pembuangan benda
tajam dan limbah , pakaian pelindung , mengelola inokulasi kecelakaan ,
sterilisasi dan desinfeksi . Kebijakan rumah sakit harus mencakup
langkah-langkah untuk mendapatkan pengujian serologis pasien sumber segera jika
diperlukan , biasanya dengan pasien informed consent . Profilaksis pasca
paparan harus dimulai sesuai lokal atau pedoman nasional .
Paparan virus hepatitis
B
Rute
penularan virus hepatitis B adalah melalui cairan tubuh seperti darah dan
produk darah , air liur , cairan cerebrospinal , peritoneal , pleura , perikardial
dan cairan sinovial , cairan ketuban , air mani dan vagina sekresi dan cairan
tubuh lainnya yang mengandung darah. Mengikuti standar tindakan pencegahan
adalah penting, tetapi imunisasi adalah cara terbaik untuk mencegah penularan
kepada staf perawatan kesehatan . Semua petugas kesehatan berisiko jadi harus
divaksinasi. Staf yang terinfeksi melalui darah dapat menularkan infeksi ini kepada
pasien dan memerlukan evaluasi yang cermat terhadap tugas-tugas mereka.
Paparan virus hepatitis
C
Rute
infeksi terutama parenteral. Transmisi seksual dapat terjadi tetapi jauh lebih
sedikit frekuensinya. Terapi pasca paparan yang tersedia untuk hepatitis C jika ada harus didokumentasikan.
Adapun infeksi virus hepatitis B , orang yang menderita harus diuji untuk
infeksi HCV. Cedera benda tajam yang sering terjadi sehingga dapat menyebabkan
penularan antar pasien ke
karyawan. semua tenaga kesehatan harus dilakukan vaksinasi untuk mencegah
penularan. Untuk personil lainnya , risiko hepatitis B , hepatitis C dan infeksi
HIV harus dilakukan imunisasi dan dipantau agar dapat diberikan tindakan yang
sesuai.
Tuberculosis
Tenaga
kesehatan beresiko
untuk terpapar TB. Tenaga kesehatan yang memiliki peluang terbesar terpapar TB yaitu yang
bekerja diruang medis, laboratorium TB, laboratorium HIV, unit bronchoscopy,
unit radiology dan ruang autopsi.jika tenaga kesehatan telah terpapar maka
tenaga kesehatan harus melapor kepada perawat.
Meningococcal meningitis
Penyebaran
dari menignococcal menigitis ke staff kesehatan banyak terjadi antara 24 jam
setelah melakukan pelayanan kepada pasien, prioritaskan bahwa pasien menerima antibiotik yang tepat.
Tenaga kesehatan yang kontak dekat dengan pasien dapat menerima
chemoprophylaxis dengan cyprofloxacin. Kontak dekat dengan pasien yaitu dapat
dari mulut ke mulut, berbagi minuman dari gelas yang sama atau rokok.
SARS
fasilitas
kesehatan harus benar-benar menerapkan panduan untuk mencegah karyawan
terjangkit Severe Acute Respiratory
Syndrome (SARS). Tenaga kesehatan yang
kontak dengan pasien diduga memiliki SARS harus dimonitor setiap hari untuk mendapatkan tanda dan
gejala SARS, secara berkala karena suhu
akan berubah. Jika tenaga kesehatan memiliki gejala SARS, harus menaksir
bagaimana cara mengontrol atau dimasukkan kedalam ruang isolasi.
Infeksi lain
:varisells, influenzan,pertusis, diphteria, rabies
Perpindahan
mikroorganisme tersebut luar
biasa, tetapi kebijakan untuk mengendalikan dapat digali supaya lebih
berkembang. Vmencegah terjadinya varisela
imunisasi adalah anjuran yang tepat. Vaksinasi influenza
diberikan satu tahun sekali. Vaksin rabies lebih tepat diberikan di beberapa
fasilitas di daerah dimana banyak kejadian rabies.
6.
TINDAKAN
PENCEGAHAN DALAM PENGENDALIAN INFEKSI UNTUK KONDISI TERTENTU
Severe Acute
Respiratory Syndrome ( SARS ) agen penyebab
SARS adalah demam. baru ini diakui penyakit pernafasan yang pertama kali
terlihat di China selatan pada November 2002. Organisme yang menyebabkan penyakit
ini adalah coronavirus baru - SARS Co- v.
cara
penularan
·
coronavirus ditemukan
dalam dahak , air mata , darah , urine , dan feses
·
organisme terutama
ditularkan melalui percikan melalui saluran pernapasan dari orang yang
terinfeksi khusus selama batuk , bersin dan berbicara . Oleh karena itu,
infeksi kemungkinan tertinggi selama dekat, orang ke orang atau tatap muka
kontak dengan seseorang yang memiliki gejala SARS
·
Organisme ini bisa
berada dalam kotoran selama 30 hari dan telah terbukti bertahan hidup pada
permukaan keras selama lebih dari 24 jam .
·
Oleh karena itu ,
transmisi kontak merupakan komponen penting , baik langsung ( orang - ke-orang
) atau melalui permukaan lingkungan yang terkontaminasi atau peralatan
·
Transmisi melalui udara
belum sepenuhnya dikesampingkan .
Masa
inkubasi 2-10 hari dengan rata-rata 4,5 hari. risiko transmisi selama fase prodromal
penyakit tampaknya rendah. Sebelum memiliki pasien yang gejala tidak dianggap
menular . Gambaran klinis yang umum adalah :
·
Selama hari 1-3 , pasien
mengalami demam tinggi ( > 38°C ) , sakit kepala , sakit otot dan gejala
pernapasan seperti batuk kering .
·
Selain itu, beberapa
kelompok pasien SARS telah menunjukkan menonjol gejala gastrointestinal (
terutama diare ) .
·
Dari sekitar 4-5 hari ,
penyakit berlangsung ke dalam pernapasan bawah fase ditandai dengan sesak napas
dan batuk memburuk .
·
Perubahan X - ray pada
dada diduga menderita pneumonia : awal , kecil hilus atau infiltrat
interstitial focal , berkembang menjadi lebih umum infiltrat interstitial
merata
·
Jumlah sel darah putih
yang rendah dan jumlah trombosit, fungsi hati abnormal, fungsi ginjal biasanya
normal .
·
Dari sekitar hari ke-7
, hampir 90 % kasus akan mulai membaik dalam berikutnya 1-2 minggu . Sekitar 10
% kasus akan memiliki pernafasan parah penyakit yang membutuhkan dukungan yang
lebih intensif seperti terapi oksigen , intubasi atau ventilasi mekanis . Saat
ini ada kasus tinggi ingkat kematian dalam kelompok ini . Tingkat kematian
kasus lebih tinggi pada orang tuadan mereka dengan penyakit bersamaan.
Definisi
kasus Laboratorium SARS
Seseorang
dengan gejala dan tanda klinis yang sugestif dari SARS dan dengan temuan
laboratorium positif untuk SARS - COV berdasarkan satu atau lebih dari kriteria
diagnostik berikut :
a. Polymerase
Chain Reaction ( PCR ) positif untuk SARS – COV
b. PCR
positif menggunakan metode divalidasi dari :
c. Setidaknya
dua spesimen klinis yang berbeda (misalnya nasofaring dan tinja ) atau
d. Spesimen
klinis yang sama dikumpulkan pada dua atau tiga kali selama perjalanan penyakit
( misalnya aspirasi nasofaring berurutan ) atau
e. Dua
tes yang berbeda atau diulang PCR menggunakan sampel klinis asli padasetiap
kesempatan pengujian .
f. Serokonversi
oleh Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay - ( ELISA ) atau Immuno Fluorescent
Assay ( IFA )
g. Tes
antibodi negatif pada serum akut diikuti oleh tes antibodi positif pada fase
penyembuhan serum diuji secara paralel atau
h. Kenaikan
empat kali lipat atau lebih dalam titer antibodi antara akut dan sembuh fase
sera diuji secara paralel .
isolasi virus
Isolasi
dalam kultur sel dari SARS - COV dari setiap spesimen dan Konfirmasi PCR menggunakan metode divalidasi.
Pengujian harus dilakukan hanya dalam referensi nasional atau regional
Transportasi
pasien yang menderita SARS
Batasi
gerakan dan transportasi pasien dari kamar isolasi / daerah untuk tujuan
penting saja. Jika transportasi diperlukan dari kamar isolasi / ruang pasien harus memakai masker bedah dan
baju pelindung. Semua staf yang terlibat dalam transportasi harus mengenakan APD.
Alat
pelindung diri yang digunakan untuk SARS
APD
mengurangi risiko infeksi jika digunakan dengan benar . Hal ini termasuk:
Gloves ( non steril ), Mask ( N95 lebih ), baju pelindung lengan panjang , Celemek
plastik jika percikan darah, cairan tubuh, ekskresi dan sekresi diantisipasi , Kacamata
pelindung / kacamata / visor / pelindung wajah , Cap ( untuk digunakan dalam
situasi berisiko tinggi di mana ada dapat ditingkatkan aerosol ) .
Pembuangan Limbah
Semua
limbah yang dihasilkan di ruang isolasi harus dibuang pada tempat yang
ditetapkan. Semua limbah dari ruang SARS adalah limbah infeksius. Staf harus
menggunakan APD ketika membersihkan samapah pada ruang isolasi. Jika kantok
yang digunakan takut bocor harus didouble agar tidak bocor. Jika tidak ada
sistem pembuangan limbah yang memadai , urine dan feses harus didekontaminasi
sebelum yang dibuang ke sistem pembuangan limbah . tergantung pada keadaan
setempat kotoran dapat dicampur dengan larutan disinfektan.
Koleksi
spesimen dan transportasi
Mengikuti tindakan pencegahan standar, semua spesimen
harus dianggap sebagai berpotensi menular dan staf harus mematuhi secara ketat
untuk melindungi langkah-langkah untuk meminimalkan paparan.
·
Saat dipidahkan
tempat spesimen adalah kantong anti bocor, yang memiliki saku terpisah untuk
spesimen (yaitu biohazard plastik spesimen bag). Personil yang mengangkut
spesimen harus dilatih dalam praktek penanganan yang aman dan prosedur
dekontaminasi dalam kasus tumpahan.
·
Jelas menandai
formulir permintaan yang menyertainya sebagai "dicurigai atau kemungkinan
SARS ".
·
Beritahu
laboratorium melalui telepon bahwa spesimen sedang "dalam
perjalanan."
Rumah
sakit perlu dipersiapkan untuk pengelolaan kasus SARS. Pasien yang tersangka memenuhi kriteria SARS, pasien harus segera
diisolasi, melakukan tindakan pencegahan
dan pengendalian infeksi.
Perawatan
pasien SARS dalam isolasi
Tersangka dan kemungkinan kasus SARS harus dirawat di
kamar tunggal untuk mencegah penularan langsung atau tidak langsung. Dalam
merawat pasien SARS di isolasi pedoman berikut harus diikuti :
·
Persiapan ruang
isolasi
·
Memastikan
tindakan pencegahan tambahan dengan menunjukkan dengan tepat tanda di pintu (
misalnya , Biohazard logo ) .
·
Tempatkan buku
log di pintu masuk ruang isolasi . Semua perawatan kesehatan atau pengunjung
memasuki area isolasi harus menandatangani buku log .
·
pindahkan semua
furnitur yang tidak penting . Furnitur yang tersisa harus mudah dibersihkan dan
jaga tetap bersih
·
Kumpulkan linen
yang diperlukan .
·
Persediaan
baskom cuci tangan dengan perlengkapan untuk mencuci tangan .
·
Tempat yang
sesuai kantong sampah
·
Tempatkan safety
box untuk benda tajam di dalam ruangan .
·
Jauhkan
barang-barang pribadi pasien. Jauhkan tempat air dan cangkir , tisu jaringan ,
dan semua item yang diperlukan untuk menjaga kebersihan pasien.
·
Pasien harus
dialokasikan sendiri peralatan perawatan pasien , misalnya stetoskop ,
termometer dan sphygmomanometers . Setiap item peralatan perawatan pasien yang diperlukan
untuk pasien lain harus benar-benar dibersihkan dan didesinfeksi secara sebelum
digunakan .
·
Mengatur troli
di luar pintu untuk APD .
·
Tempat wadah yang sesuai dengan tutup di luar
pintu untuk peralatan yang membutuhkan desinfeksi dan sterilisasi . Setelah
peralatan telah tepat dibersihkan dapat dikirim ke departemen layanan
sterilisasi .
·
Sediakan
peralatan yang memadai yang diperlukan untuk pembersihan dan desinfeksi dalam kamar
pasien.
Pengosongan
pasien
·
Menginformasikan
tim pengendalian infeksi ketika pasien dijadwalkan akan pulang.
·
Mendidik pasien dan keluarga tentang tindakan
pencegahan yang tepat harus diambil di rumah.
·
Melakukan
pembersihan yang sesuai dan desinfeksi ruangan
Perawatan
pasien meninggal
Petugas kesehatan harus:
·
Ikuti semua
tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi saat merawat jenazah Pasien SARS.
·
Kenakan APD yang
lengkap.
·
Pastikan bahwa tubuh sepenuhnya disegel dalam
kantong mayat.
·
untuk
mentransfer ke kamar jenazah.
·
Pastikan bahwa
tidak ada kebocoran cairan tubuh dan kantong luar bersih.
·
Mengenali dan
mempertimbangkan kepekaan budaya dalam situasi di mana pasien meninggal dan
memiliki SARS.
·
Jika keluarga
pasien ingin melihat tubuh, harus menggunakan APD.
·
Transfer tubuh
untuk kamar jenazah harus dilakukan sesegera mungkin.
Memeriksa
jenazah
Pemeriksaan jenazah dari seseorang yang memiliki atau
mungkin memiliki SARS adalah diklasifikasikan
sebagai prosedur dengan risiko tinggi Oleh karena itu, postsetelah meninggal
harus harus dihindari jika mungkin
.Meminimalkan risiko dari mayat yang terinfeksi Namun, pasca- mortem diperlukan , pencegahan dan pengendalian
infeksi penuh untuk SARS harus
diamati ketika melakukan bedah mayat Mencegah produksi aerosol :
·
Menghindari
penggunaan gergaji listrik ,
·
Melakukan
prosedur di bawah air jika ada kesempatan aerozolation , Pengendalian Infeksi
untuk Situasi Tertentu
·
Menghindari
percikan saat melepas organ apapun,
·
Menggunakan
kantong plastik bening di atas kepala mayat ' sementara eviscerating otak -
beberapa fasilitas dilengkapi dengan tenda khusus untuk prosedur ini .
·
Gunakan jumlah
minimal peralatan otopsi .
·
Hindari
menggunakan pisau bedah dan gunting dengan ujung runcing .
·
Jangan
melewatkan instrumen dan peralatan dengan tangan - selalu menggunakan nampan .
·
Jika
memungkinkan menggunakan instrumen sekali pakai dan peralatan .Jauhkan jumlah
staf hadir untuk meminimal penyebaran.
Penggunaan
circulator
Ahli patologi dan teknisi patologi anatomi akan kontak
dengan pasien dan oleh karena itu dapat diklasifikasikan sebagai "kotor
atau terkontaminasi ". Penggunaan circulator akan membantu untuk
meminimalkan kontak dengan jaringan, cairan yang berpotensi terinfeksi atau
terkontaminasi dan permukaan. Circulator akan dapat:
·
Label spesimen
kontainer tanpa kontaminasi di luar wadah,
·
Melengkapi
dokumen apapun dan merekam catatan spontan yang dibutuhkan oleh ahli patologi,
·
Berat organ di rekam
dan rincian lainnya,
·
Bertindak
sebagai penghubung antara patologi dan setiap dokter yang mungkin diperlukan
sehingga tidak ada kontak dengan telepon, komputer, catatan, dll
Tempat perawatan mayat / pemakaman
Staf kamar mayat atau rumah duka harus diberitahu
bahwa almarhum memiliki SARS. Mereka harus dididik sebagai tindakan pencegahan
yang tepat untuk paparan tubuh. Pengawetan tidak dianjurkan dalam kasus SARS:
·
Kontak dengan mayat
harus dihindari,
·
Pasien harus
dikubur atau dikremasi sesegera mungkin untuk mengurangi risiko.
·
Persiapan Higienis almarhum (misalnya
membersihkan, merapikan rambut,pemangkasan kuku, mencukur) juga harus diminimalkan.
Infeksi resisten dengan berbagai obat organisme
berlebihan dan penyalahgunaan antimikroba telah
menghasilkan pengembangan resistensi antimikroba di banyak bagian dunia. Dalam
pengaturan perawatan kesehatan, penyebaran organisme resisten
difasilitasiketika mencuci tangan, pencegahan
dan pengendalian infeksi, dan pembersihan peralatan yang suboptimal. Strategi
untuk pengendalian resistensi antimikroba sehingga terdiri dari:
·
Tepat penggunaan
antimikroba,
·
Penguatan
tindakan pengendalian infeksi dasar.
Penggunaan
antimikroba yang tepat
Ini kebijakan harus dilaksanakan melalui Komite
Pengendalian Infeksi atau
Antimicrobial Komite :
·
Penggunaan
antibiotik harus dibenarkan atas dasar diagnosis klinis dan diketahui atau
diperkirakan menginfeksi mikro - organisme ,
·
Spesimen yang
tepat untuk pemeriksaan bakteriologis harus diperoleh sebelum memulai
pengobatan antibiotik , untuk mengkonfirmasi pengobatan sesuai ,
·
Pemilihan
antibiotik harus didasarkan tidak hanya pada sifat penyakit dan agen patogen (
s ) , tetapi pada sensitivitas pola , toleransi pasien , dan biaya ,
·
Dokter harus
menerima tepat waktu , informasi yang relevan dari prevalensi resistensi dalam
fasilitas tersebut ,
·
Agen dengan spektrum
sempit mungkin harus digunakan ,
·
Kombinasi
antibiotik harus dihindari , jika mungkin , Antibiotik · dipilih dapat dibatasi
penggunaannya ,
·
Dosis yang benar
harus digunakan ( dosis rendah mungkin tidak efektif untuk mengobati infeksi ,
dan mendorong pengembangan sedangkan dosis berlebihan dapat memiliki efek
samping, dan tidak dapat mencegah resistensi).
gak semudah membaca..
BalasHapus